| Jenis Dana | Persentase Bagi Hasil Per Bulan | |||||||||||
| JAN | FEB | MAR | APR | MEI | JUN | JUL | AGT | SEP | OKT | NOV | DES | |
| Tabungan | 8.41 | 8.05 | 4.28 | 6.99 | 7.37 | 7.19 | 6.61 | 5.73 | 5.86 | 6.08 | 6.10 | 6.28 |
| Deposito | ||||||||||||
| 1 Bulan | 10.43 | 9.98 | 5.31 | 8.67 | 9.14 | 8.92 | 8.73 | 7.10 | 7.73 | 7.54 | 7.56 | 7.79 |
| 3 Bulan | 10.77 | 10.30 | 5.48 | 8.95 | 9.44 | 9.21 | 8.20 | 7.33 | 7.26 | 7.79 | 7.81 | 8.04 |
| 6 Bulan | 11.44 | 10.95 | 5.83 | 9.51 | 10.03 | 9.78 | 8.99 | 7.79 | 7.50 | 8.27 | 8.30 | 8.54 |
| 12 Bulan | 11.78 | 11.27 | 6.00 | 9.79 | 10.32 | 10.07 | 9.26 | 8.02 | 7.97 | 8.52 | 8.54 | 8.80 |
Kamis, 17 Februari 2011
Tabel Bagi Hasil 2008
Tabel Bagi Hasil 2009
| Jenis Dana | Persentase Bagi Hasil Per Bulan | |||||||||||
| JAN | FEB | MAR | APR | MEI | JUN | JUL | AGT | SEP | OKT | NOV | DES | |
| Tabungan | 6.01 | 5.69 | 5.90 | 6.24 | 5.31 | 7.42 | 8.23 | 6.29 | 5.44 | 7.18 | 7.23 | 8.49 |
| Deposito | ||||||||||||
| 1 Bulan | 7.45 | 7.06 | 7.32 | 7.74 | 6.58 | 9.20 | 10.20 | 7.80 | 6.75 | 8.91 | 8.96 | 10.50 |
| 3 Bulan | 7.69 | 7.29 | 7.56 | 7.99 | 6.79 | 9.50 | 10.50 | 8.05 | 6.97 | 9.19 | 9.25 | 10.90 |
| 6 Bulan | 8.17 | 7.75 | 8.03 | 8.49 | 7.22 | 10.10 | 11.20 | 8.55 | 7.40 | 9.77 | 9.83 | 11.60 |
| 12 Bulan | 8.41 | 7.97 | 8.26 | 8.74 | 7.43 | 10.40 | 11.53 | 8.80 | 7.62 | 10.10 | 10.10 | 11.90 |
Tabel Bagi Hasil 2010
| Jenis Dana | Persentase Bagi Hasil Per Bulan | |||||||||||
| JAN | FEB | MAR | APR | MEI | JUN | JUL | AGT | SEP | OKT | NOP | DES | |
| Tabungan | 6.42 | 5.84 | 7.76 | 8.02 | 6.91 | 6.17 | 6.51 | 6.56 | 6.32 | 6.57 | 6.35 | 7.26 |
| Deposito | ||||||||||||
| 1 Bulan | 7.97 | 7.24 | 9.63 | 9.95 | 8.57 | 7.64 | 8.07 | 8.13 | 7.83 | 8.14 | 7.87 | 9.01 |
| 3 Bulan | 8.22 | 7.47 | 9.94 | 10.27 | 8.85 | 7.89 | 8.33 | 8.39 | 8.09 | 8.40 | 8.13 | 9.29 |
| 6 Bulan | 8.74 | 7.94 | 10.56 | 10.91 | 9.40 | 8.38 | 8.85 | 8.92 | 8.59 | 8.93 | 8.64 | 9.88 |
| 12 Bulan | 8.99 | 8.17 | 10.87 | 11.23 | 9.68 | 8.63 | 9.11 | 9.18 | 8.85 | 9.20 | 8.89 | 10.17 |
Gubernur BI, Risiko, dan Harapan
Oleh: Ade Chandra
Published at www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=329366&kat_id=16
BI sebagai otoritas moneter tentu sangat signifikan perannya untuk menentukan masa depan lembaga keuangan dan perbankan. Semua ini kembali ujungnya ditentukan oleh pemimpin puncak BI yang baru.
Published at www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=329366&kat_id=16
Penentuan Gubernur Bank Indonesia (BI) masih menjadi perdebatan. Seolah pimpinan BI menjadi tumpuan utama penyelesaian segudang masalah perbankan.
Padahal, ada begitu banyak risiko yang meliputi sebuah bank. Entah itu BI, bank konvensional, ataupun bank syariah. Menurut The World Bank (2000), secara umum risiko-risiko sebuah bank dibagi atas empat kategori, yaitu 1) financial risks, 2) operational risks, 3) business risks, dan 4) event risks.
Mesti disadari bahwa risiko-risiko keuangan bank atau financial risks dibagi menjadi dua hal, yaitu risiko-risiko murni (pure risks) yang meliputi struktur laporan keuangan, struktur laporan rugi-laba, kecukupan modal, risiko likuiditas, risiko kredit, dan kemampuan membayar utang (solvency risks), dan risiko-risiko spekulatif (speculative risks), yang dalam hal ini meliputi risiko tingkat suku bunga, risiko pasar, dan risiko perubahan nilai mata uang.
Ada juga risiko operasional (operational risks) yang sifatnya internal, seperti risiko strategi bisnis, risiko sistem internal dan operasional, risiko teknologi, mismanagement, dan kecurangan. Belum lagi risiko bisnis bank, seperti risiko legal, risiko kebijakan, infrastruktur keuangan, dan risiko sistem. Terakhir event risks yang menentukan masa depan bank, seperti risiko politik, risiko krisis perbankan, maupun risiko dari faktor-faktor lain dari luar bank.
BI sebagai pembuat kebijakan dan pengawas seluruh bank akan berkaitan dengan seluruh risiko. Umumnya bank sentral memiliki tanggung jawab untuk 1) membuat dan mengeluarkan izin perbankan, 2) penetapan peraturan dan standar perbankan, 3) memeriksa laporan perbankan secara berkala sesuai kondisi baik secara off-site surveillance maupun on-site examination, 4) mengevaluasi dan pemberian hukuman bila perlu, serta 5) menutup kelangsungan hidup sebuah bank.
Beban tanggung jawab bank sentral yang demikian besar tidak akan menjamin kesuksesan dunia perbankan. Potensi kegagalan sudah merupakan risiko penting menyeluruh. Apalagi, ada istilah semakin berisiko suatu bisnis, semakin besar potensi keuntungannya.
Tugas pengawasan bank sentral memiliki aturan main dan waktu tertentu. Akan sangat berbeda dengan aturan pengawasan bank dalam mengatasi masalah atau mencegah krisis dalam suatu sistem bank.
Adapun efektivitas sistem pengawasan bank sentral pada intinya terdiri atas dua hal, yaitu off-site surveillance dan on-site examination. Pada off-site surveillance, bank sentral melakukan pendeteksian penyimpangan bank yang dilakukan secara umum, sedangkan on-site examination, bank sentral mendiagnosis penyimpangan suatu bank lebih khusus sehingga akurat dan meliputi keseluruhan sistem operasi sebuah bank serta bisa diupayakan tindakan pencegahan masalah sedini mungkin.
Jangan heran bank sentral mesti menetapkan panduan pengawasan yang ketat, jelas, sistematis, terukur, dan konsisten. Ini akan dijalankan oleh jajaran human resource bank sentral yang harus mesti memiliki kejujuran, integritas, kredibilitas, dan profesionalitas yang mumpuni. Keseluruhannya mesti memiliki komitmen tinggi.
Relevansinya mengingatkan kita tentang penjelasan Hermawan Kartajaya dalam buku Berbisnis dengan Hati tentang konsep progression of commitment value dengan empat tingkatan komitmen secara berurutan, mulai dari political commitment, intellectual commitment, emotional commitment, dan spiritual commitment.
Political commitment merupakan tingkatan terendah dengan komitmen secara terpaksa. Contohnya, melakukan pekerjaan karena ada pimpinan. Tingkatan selanjutnya intellectual commitment dengan komitmen memenuhi kebutuhan intelektualnya, seperti menyempatkan diri untuk membaca di mana pun berada.
Emotional commitment bersifat sukarela dan tidak lagi memikirkan untung rugi. Tingkatan tertinggi spiritual commitment dengan komitmen kerja dilakukan karena sudah menjadi panggilan jiwa dan tidak terikat lagi dengan masalah duniawi.
Tantangan sekaligus risiko terbesar bank sentral di seluruh dunia termasuk BI adalah karena perekonomian didominasi oleh tiga pilar utama, yaitu fiat money, fractional reserve requirement (FRR), dan interest (bunga) bank. Secara ringkas, fiat money merupakan uang yang diciptakan tanpa didukung sedikit pun oleh logam mulia, seperti emas. Karena itu, rentan terhadap speculative risks.
Fiat money bukan lagi sekadar alat tukar, tetapi sudah menjadi komoditas yang bisa diperdagangkan. Terkadang para spekulan melakukan transaksi fiat money besar-besaran di pasar uang sehingga bisa dipastikan krisis ekonomi akan berlangsung secara periodik.
Selanjutnya adalah FRR yang merupakan cadangan sebagian yang dipersyaratkan BI untuk memenuhi kondisi normal permintaan uang dari deposan yang menarik tabungan/depositonya. Contoh sederhananya jika BI mensyaratkan FRR 10 persen untuk deposito sebuah bank yang jumlahnya Rp 100 juta, maka cadangan yang diperlukan bank tersebut sebesar Rp10 juta (Rp100 juta x 10 persen).
Maka uang yang bisa diciptakan bank tersebut adalah Rp 90 juta (Rp100 juta-Rp10 juta) dalam bentuk pemberian kredit kepada debitur ataupun penyaluran dana dalam bentuk pinjaman. Jadi, secara tidak langsung bank tersebut menciptakan uang dengan cara semu.
Bayangkan seandainya jumlah deposito Rp 100 juta itu dimiliki 10 juta orang. Tentu akan menciptakan uang semu Rp 900 triliun. Sungguh fantastis untuk menghancurkan ekonomi suatu bangsa!
Dominasi bank konvensional dengan sistem bunga memicu risiko ketidakstabilan ekonomi. Ini karena deposan dijamin mendapatkan bunga walaupun bank konvensional merugi.
Solusi yang muncul ke permukaan untuk masalah fiat money dan FRR adalah menggantinya dengan memakai emas. Namun, implementasinya juga tidak mudah.
Untuk bunga bank telah dipecahkan melalui bank syariah. Tetapi, tetap mengalami kendala karena fiat money dan FRR masih juga dilaksanakan dalam bank syariah sehingga bank syariah ibarat boneka yang dikendalikan dari atas untuk berjalan, sedangkan pengendalinya tetap berada di tempat.
Maka, Gubernur BI diharapkan berani mengambil risiko keputusan yang sulit dan tidak populer. Di sinilah perlunya kombinasi intellectual competence, emotional competence, dan spiritual competence sehingga dapat melakukan perubahan dan pengikutnya juga siap berubah.
MENCARI PEMIMPIN SEJATI
By: Ade Chandra
16 Februari 2011
16 Februari 2011
Kepemimpinan bukanlah sebuah bakat, tapi kepemimpinan dapat diciptakan oleh lingkungan dan masyarakatnya.
Betapa tidak, sejak dimulainya pemilihan secara langsung pasangan presiden dan wakil presiden oleh rakyat Indonesia maka kini terus bergulir pemilihan pemimpin model tersebut diberbagai propinsi, kota dan kabupaten. Bahkan pelaksanaannya juga telah sampai ke tingkat RT.
Namun setelah pemimpin baru banyak yang harus meringkuk di jeruji besi karena terbukti korupsi atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin. Walau adakalanya kejahatan itu dilakukan sebelum terpilih memimpin rakyat didaerahnya.
Tentu hal ini merugikan bangsa dan rakyat. Karena miliaran bahkan triliunan dana terbuang hanya untuk memilih penjahat berkedok pemimpin. Bagaikan membeli kucing dalam karung.
Semestinya, calon pemimpin yang diusung partai politik tertentu beserta rakyat harus mengetahui track-record nya. Utama sekali bagi tim suksesnya. Makanya perlu kriteria-kriteria untuk menjaring calon pemimpin terbaik.
Dalam buku Modern Management, Certo (2006) menuturkan beberapa kriteria kepemimpinan hari ini, yaitu: (1)visionary, dengan memiliki kekuatan ide-ide asli untuk masa depan menuju perbaikan dan peningkatan, (2)passionate dengan bentuk kekuatan keyakinan yang dalam, (3)creative untuk menemukan dan mengembangkan ide-ide baru, (4)flexible dengan mampu merubah keadaan dan kondisi berbeda-beda menjadi lebih baik, (5)inspirational sehingga orang-orang disekitarnya tergerak untuk melakukan prilaku-prilaku positif, (6)innovative dalam ide dan mengatasi berbagai persoalan, (7)courageous atau berani berkorban untuk kebaikan, (8)imaginative dalam berpikir, membuat sesuatu yang baru dan bermanfaat, (9)experimental dengan membuat dan memodifikasi sesuatu yang tidak berguna menjadi bermanfaat dan (10)independent dalam berpikir dan berbuat tanpa terpengaruh oleh apapun.
Selain itu, pemimpin perlu memiliki komitmen kebaikan dan kebermanfaatan. Hermawan Kartajaya menerangkan konsep progression of commitment value dengan empat tingkatan komitmen secara berurutan, mulai dari political commitment, intellectual commitment, emotional commitment, dan spiritual commitment.
Political commitment merupakan tingkatan terendah dengan memberikan komitmen secara terpaksa sesuai apa yang diinginkan organisasinya. Tingkatan selanjutnya intellectual commitment dengan menjalankan komitmen untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya.
Selanjutnya emotional commitment yang dilakukan sukarela dan tidak lagi memikirkan untung rugi. Sedangkan tingkatan tertinggi spiritual commitment dengan komitmen kerja dilakukan karena sudah menjadi panggilan jiwa untuk menegakkan kebenaran yang berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Sedangkan dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin utamanya dipilih dari orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Yang tidak akan pernah curang dan berbuat zalim sekecil apapun kepada rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya. Karena dia tahu bahwa pengawas utamanya langsung dari sang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Yang tidak pernah tidur dan tidak pernah merasa lelah. Bisa saja pemimpin mengelabui seluruh manusia yang dipimpinnya, tapi ingat bahwa perkara tersembunyi dan tidak tuntas didunia ini, maka urusan tersebut pertanggungjawabannya nanti akan dituntaskan pada pengadilan sang Maha Adil, Allah, Penguasa alam semesta.
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al Qur’an surat Al Qiyamah ayat 36)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an surat Al Hasyr ayat 18)
Kepemimpinan seyogyanya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta agar mendapat keberuntungan. Sebagai mana disebutkan dalam kitab suci Al Qur’an berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (surat Al Ma’idah ayat 35).
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (surat Al Ankabut ayat 69).
Selain itu, kepemimpinan tidak boleh dicari apalagi memintanya. Karena pertanggungjawaban kepemimpinan sunggguh berat di Hari Pembalasan nantinya.
Dalam sejarah kehidupan manusia, banyak kisah-kisah kepemimpinan yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi para pemimpin atau calon pemimpin.
Kisah fenomenal adalah kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Hanya dalam waktu kepemimpinan 2,5 tahun, beliau mampu mensejahterakan rakyatnya baik Muslim maupun non-muslim. Saat itu, orang-orang yang mau menyalurkan zakatnya seharian penuh berkeliling tapi tidak ada yang mau menerimanya. Karena masyarakat merasa hidup berkecukupan sehingga tidak pantas menerima zakat.
Sebelum menjadi pemimpin tertinggi umat Islam seluruh dunia pada saat itu, beliau termasuk orang yang kaya. Namun, ketika diangkat menjadi pemimpin, beliau segera menyalurkan seluruh hartanya ke kas negara. Yang tersisa hanya tinggal baju dibadan. Beliau juga minta diberikan gaji hanya 2 dirham sehari, yang nilainya dapat memenuhi kebutuhan makan pada hari itu juga.
Beliau juga minta kepada istrinya untuk memilih apakah tetap bersamanya dalam kondisi seperti ini atau pergi meninggalkannya secara baik-baik dengan perceraian. Beliau takut, istrinya tidak tahan dan mempengaruhi beliau kearah keburukan dan kejahatan dalam menjalankan tugas besar sebagai pemimpin umat. Istrinya menangis mendengar penyampaian seperti itu dan berkata: ”wahai suamiku, justru dalam kondisi seperti ini diriku harus berada disampingmu.”
Kepemimpinan hari ini
Kalau dibandingkan dengan pemimpin hari ini, justru kekayaannya bertambah setelah menjadi pemimpin sedangkan rakyatnya makin sengsara. Pemimpin bergelimang fasilitas sedang fasilitas rakyat dikurangi bahkan dihilangkan. Fasilitas negara dijadikan fasilitas pribadi. Rakyat diminta hidup hemat sedang pemimpin berfoya-foya bersama istri, anak, keluarga dan kroni-kroninya.
Kondisi kepemimpinan seperti ini menjadikan rakyat terzalimi. Rakyat kelaparan ditengah daerah yang kaya. Ibarat ayam mati dilumbung padi. Akibatnya, silih berganti bencana menimpa pemimpin dan daerahnya. Sehingga membuat pemimpin “pusing”, walau kadang pusing menikmati bantuan dibalik bencana.
Keberhasilan kepemimpinan dilihat diatas kertas saja melalui data-data statistik. Tanpa mau membuka mata, hati dan telinga pada rakyat disekelilingnya. Padahal banyak tetangga disamping rumah pemimpin menderita busung lapar, sulit mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Al Qur’an menerangkan dalam surat Al A’raf ayat 179:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Tentu tak ada yang menginginkan pemimpin yang hanya berani menjual kekayaan negara dan daerahnya hanya dengan alasan memenuhi kekurangan anggaran “bang-saku”. Dengan alasan privatisasi dan meningkatkan kinerja. Menguras tanah dan air hanya untuk segelintir orang agar tercapai target keberhasilan kepemimpinan sesaat dan selanjutnya menyengsarakan rakyat.
Makanya, kita memerlukan pemimpin jujur, cerdas, komunikatif dan amanah. Pemimpin yang sanggup melakukan perubahan. Memberikan sebesar-besarnya multi-manfaat kepada rakyatnya tanpa pernah mengharap balas. Karena sebaik-baik balasan hanya dari sang Maha Pemberi Balasan Yang Sempurna. Dialah Allah subhanahu wata’ala.
Langganan:
Komentar (Atom)